Ketika Langit Tak Menurunkan Hujan: Belajar dari Elia di Tengah Kekeringan I Motivasi Kristen
Ketika Langit Tak Menurunkan Hujan: Belajar dari Elia di Tengah Kekeringan
Bacaan Alkitab: 1 Raja-raja 17:1–16
“Maka kata Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: ‘Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.’”
Kemarau mengajarkan kepada kita satu hal sederhana: manusia tidak berkuasa atas segala sesuatu. Ketika hujan berhenti turun, tanah menjadi kering, tanaman mulai layu, sumber air berkurang, dan kehidupan menjadi lebih sulit. Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah merasa cemas dan bertanya, “Sampai kapan keadaan ini akan berlangsung?”
Pada zaman Elia, Israel juga mengalami kekeringan yang panjang. Namun kekeringan itu bukan sekadar persoalan cuaca. Saat itu bangsa Israel telah meninggalkan Tuhan dan mengikuti Baal. Elia tampil menyampaikan firman Tuhan kepada Raja Ahab bahwa tidak akan ada embun dan hujan untuk suatu waktu.
Menariknya, setelah menyampaikan berita tersebut, Elia sendiri harus hidup dalam situasi kekeringan itu. Ia tidak berada di tempat yang bebas dari persoalan. Ia juga merasakan dampaknya.
Tetapi Tuhan berkata kepada Elia:
“Pergilah dari sini, berjalanlah ke sebelah timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit...”
1 Raja-raja 17:3
Di sana Tuhan memelihara Elia. Burung-burung gagak membawa makanan kepadanya dan ia minum dari sungai. Namun kemudian sesuatu terjadi: sungai itu menjadi kering.
Bukankah ini sering terjadi dalam kehidupan kita?
Kita sudah merasa memiliki tempat yang aman, tetapi tiba-tiba sumber pertolongan itu mengering. Pekerjaan berubah. Penghasilan berkurang. Rencana tidak berjalan. Kesehatan terganggu. Hubungan mengalami masalah. Bahkan sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai “sumber kehidupan” dapat berhenti.
Namun perhatikan: ketika sungai Kerit kering, Tuhan tidak ikut menjadi kering.
Tuhan kemudian mengarahkan Elia kepada seorang janda di Sarfat. Di sana persediaan mereka hampir habis. Hanya ada sedikit tepung dan minyak. Secara manusia, tidak banyak yang dapat diharapkan.
Tetapi justru di tempat yang terbatas itulah kuasa pemeliharaan Tuhan dinyatakan.
Tepung dalam tempayan tidak habis dan minyak dalam buli-buli tidak berkurang sampai Tuhan mendatangkan hujan kembali.
Ketika Sumber Kita Kering, Tuhan Tetap Ada
Kemarau hari ini dapat menjadi pengingat rohani bagi kita.
Jangan hanya melihat tanah yang kering. Lihatlah Tuhan yang tetap hidup.
Jangan hanya menghitung apa yang berkurang. Ingatlah bahwa kasih karunia Tuhan tidak pernah berkurang.
Jangan hanya bertanya, “Kapan hujan turun?” tetapi belajarlah bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau ingin ajarkan kepada kami selama kami menunggu?”
Kita tidak selalu dapat menentukan kapan musim kekeringan berakhir. Tetapi kita dapat memilih untuk tetap percaya kepada Tuhan selama berada di dalamnya.
Kemarau mungkin mengeringkan sungai, tetapi jangan biarkan kemarau mengeringkan iman.
Doa:
Tuhan yang Mahakuasa, Ketika langit terasa begitu lama tidak menurunkan hujan, ajarlah kami untuk tetap percaya kepada pemeliharaan-Mu.
Ketika sumber-sumber kehidupan kami mulai mengering, ingatkan kami bahwa Engkau adalah sumber yang tidak pernah habis. Berikan kekuatan kepada mereka yang terdampak kemarau, cukupkan kebutuhan mereka, dan jauhkan kami dari keserakahan yang merusak ciptaan-Mu.
Ajarlah kami seperti Elia: tetap taat meskipun keadaan tidak mudah, tetap percaya meskipun belum melihat jawaban, dan tetap berharap meskipun hujan belum turun.
Kami percaya, musim kering bukanlah akhir dari cerita. Sebab Tuhan yang memelihara Elia di tepi sungai Kerit adalah Tuhan yang sama yang sanggup memelihara kita hari ini.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.

Posting Komentar untuk "Ketika Langit Tak Menurunkan Hujan: Belajar dari Elia di Tengah Kekeringan I Motivasi Kristen "
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.