Ketika Darah Tertumpah di Tanah Papua I Motivasi Kristen
Ketika Darah Tertumpah di Tanah Papua
Tiga nyawa telah pergi. Tiga keluarga kehilangan orang yang mereka cintai. Dan kita kembali diingatkan bahwa kekerasan tidak pernah membawa kehidupan yang lebih baik.
Ada orang yang berangkat bekerja dengan harapan dapat kembali berkumpul bersama keluarga. Ada yang pergi menjalankan tugas untuk membantu masyarakat, tetapi tidak pernah lagi pulang. Peristiwa penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian di Muliama, Papua Pegunungan, menjadi luka bagi keluarga korban dan duka bagi kita semua.
Di balik setiap nama korban, ada seorang manusia. Ada keluarga yang menunggu, ada orang tua yang mungkin masih berharap anaknya pulang, ada pasangan dan anak-anak yang harus belajar menerima kehilangan. Kita tidak boleh membiarkan mereka hanya menjadi angka dalam berita.
1. Tuhan melihat setiap air mata
Mazmur 34:19 berkata, "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya."
Kita mungkin tidak sanggup menghapus kesedihan keluarga korban. Kita tidak dapat mengembalikan orang yang telah pergi. Namun, kita percaya bahwa Tuhan dekat dengan mereka yang sedang menangis dan mengalami kehilangan.
Kiranya keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kekuatan. Kiranya mereka tidak merasa sendirian dalam menghadapi hari-hari yang berat.
2. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan
Yesus mengajarkan dalam Matius 5:44, "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."
Ayat ini bukan berarti kita membenarkan pembunuhan atau membiarkan kejahatan tanpa pertanggungjawaban. Kasih Kristen tidak meniadakan keadilan. Justru karena manusia berharga di hadapan Tuhan, maka kehidupan harus dilindungi dan kejahatan harus dihentikan melalui cara yang benar.
Kita menolak pembunuhan, intimidasi, dan kekerasan terhadap siapa pun. Kita berharap aparat mengungkap perkara ini secara adil, para pelaku diproses sesuai hukum, dan masyarakat sipil mendapatkan perlindungan.
3. Papua membutuhkan damai, bukan semakin banyak kehilangan
Tuhan Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9).
Papua bukan hanya tentang konflik. Papua adalah tanah tempat manusia hidup, bekerja, membesarkan anak, berdoa, dan berharap akan masa depan. Orang asli Papua maupun pendatang sama-sama memiliki martabat sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Kita tidak boleh membiarkan kebencian terhadap satu kelompok menular kepada seluruh masyarakat. Jangan karena tindakan segelintir orang, kita kehilangan kasih kepada sesama.
Doa dan harapan kita: Semoga Tuhan menghibur keluarga Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Meha, dan Willi Mbuik. Semoga masyarakat Papua mendapatkan keamanan dan kedamaian. Semoga para pemimpin memiliki kebijaksanaan untuk menyelesaikan konflik dengan keadilan, dialog, dan penghormatan terhadap kehidupan.
Kiranya tidak ada lagi anak yang kehilangan orang tua karena kekerasan. Tidak ada lagi keluarga yang menunggu kepulangan orang tercinta dengan air mata. Dan tidak ada lagi darah manusia yang tertumpah karena kebencian.
Tuhan, kasihanilah Papua. Berikan damai bagi tanah yang indah ini.
Amin.
Stevi Lewaherilla — Motivasi Kristen

Posting Komentar untuk "Ketika Darah Tertumpah di Tanah Papua I Motivasi Kristen "
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.