Kaya Doktrin, Miskin Adab: Ketika ‘Orang Suci’ Hobi Merendahkan Sesama I Motivasi Kristen
Kaya Doktrin, Miskin Adab: Ketika ‘Orang Suci’ Hobi Merendahkan Sesama
Bacaan Alkitab: Matius 7:3–5; Efesus 4:29
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun...” Efesus 4:29
Ada orang yang sangat memahami Alkitab, pandai menjelaskan doktrin, dan fasih berbicara tentang kebenaran. Namun, sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, perkataannya justru merendahkan orang lain. Ia merasa paling benar, paling rohani, dan paling memahami kehendak Tuhan, tetapi lupa bahwa kerendahan hati juga merupakan bagian penting dari kehidupan orang percaya.
Jangan sampai kita kaya pengetahuan tentang Tuhan, tetapi miskin dalam memperlakukan sesama.
Yesus dalam Matius 7:3–5 mengingatkan tentang orang yang sibuk melihat selumbar di mata saudaranya, tetapi tidak menyadari balok di matanya sendiri. Teguran ini mengajak kita untuk memeriksa diri sebelum sibuk menghakimi orang lain.
Terkadang, kita menggunakan ayat Alkitab untuk menyindir, mempermalukan, atau menjatuhkan seseorang. Kita membungkus penghinaan dengan alasan menegur, membenarkan kekasaran dengan alasan membela kebenaran, dan merasa tindakan kita benar hanya karena menganggap diri sedang membela Tuhan.
Padahal, kebenaran tidak pernah menjadi alasan untuk kehilangan kasih, dan pengetahuan rohani tidak pernah memberi kita hak untuk merendahkan martabat orang lain.
Menegur memang perlu, tetapi cara kita menegur juga penting. Ada perbedaan antara menegur untuk memulihkan dan menyindir untuk mempermalukan. Ada perbedaan antara menyampaikan kebenaran dengan kasih dan menggunakan kebenaran sebagai senjata untuk melukai hati sesama.
Jangan merasa lebih suci hanya karena mengetahui lebih banyak ayat Alkitab. Jangan merasa lebih tinggi hanya karena memiliki gelar teologi, jabatan gerejawi, atau pengalaman pelayanan yang panjang. Semua itu tidak ada artinya jika tidak membentuk kita menjadi pribadi yang rendah hati, sabar, dan mampu menghargai orang lain.
Sebab, kedewasaan rohani bukan hanya terlihat dari seberapa hebat kita menjelaskan firman Tuhan, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda pendapat, melakukan kesalahan, atau memiliki kekurangan.
Saudara-saudara, sebelum mengoreksi kehidupan orang lain, mari periksa hati kita sendiri. Apakah perkataan kita membangun atau menghancurkan? Apakah teguran kita membawa pemulihan atau justru mempermalukan? Apakah kita benar-benar membela kebenaran, atau hanya sedang memuaskan ego dan merasa diri paling benar?
Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi manusia yang hanya pandai berbicara tentang kesucian, tetapi juga untuk menunjukkan kasih melalui sikap dan tindakan.
Pesan hari ini: Jangan hanya berusaha menjadi orang yang benar secara doktrin, tetapi belajarlah menjadi pribadi yang benar dalam sikap. Jangan menggunakan firman Tuhan untuk merendahkan sesama. Sebab, orang yang sungguh-sungguh mengenal Kristus seharusnya semakin rendah hati, bukan semakin merasa dirinya paling suci.
Doa
Tuhan Yesus, ampunilah kami ketika pengetahuan dan kesombongan membuat kami merasa lebih baik daripada orang lain. Ajarlah kami menyampaikan kebenaran dengan kasih, menegur dengan kerendahan hati, dan memperlakukan sesama dengan hormat. Tolong kami agar tidak hanya memahami firman-Mu, tetapi juga sungguh-sungguh melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Bentuklah hati kami agar semakin menyerupai hati-Mu. Amin.

Posting Komentar untuk "Kaya Doktrin, Miskin Adab: Ketika ‘Orang Suci’ Hobi Merendahkan Sesama I Motivasi Kristen "
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.