Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kembali ke Crux (Salib): Teguran Luther bagi Jiwa-Jiwa yang Lari dari Panggilan Pelayanan

Kembali ke Salib: Jangan Lari dari Panggilan Pelayanan

Bacaan Alkitab: Filipi 2:5–8; Galatia 6:14

“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus...” Galatia 6:14

Ada satu pertanyaan yang perlu direnungkan oleh setiap pelayan Tuhan: apakah kita masih setia memikul salib, atau justru sibuk mengejar takhta?

Pelayanan bukan sekadar tentang berdiri di mimbar, memimpin jemaat, atau mendapatkan penghormatan. Pelayanan adalah panggilan untuk mengasihi, berkorban, dan tetap setia kepada Tuhan, bahkan ketika tidak ada pujian, jabatan, atau keuntungan yang bisa diperoleh.

Martin Luther, melalui Theologia Crucis atau Teologi Salib, mengingatkan bahwa kemuliaan Allah tidak dapat diukur hanya dengan ukuran dunia. Salib Kristus memperlihatkan kasih, kerendahan hati, dan ketaatan yang sempurna. Karena itu, pelayanan yang sejati bukan tentang seberapa tinggi seseorang diangkat manusia, melainkan seberapa setia ia berjalan dalam kehendak Tuhan.

Namun, terkadang kita lebih tertarik pada kemuliaan daripada pengorbanan. Kita ingin dihormati sebagai pemimpin, tetapi enggan memikul tanggung jawab. Kita ingin dikenal banyak orang, tetapi mulai melupakan mereka yang membutuhkan perhatian. Kita ingin mendapatkan jabatan, tetapi tidak selalu bersedia menjalani proses yang membentuk karakter.

Jangan sampai kita begitu sibuk mengejar takhta, sampai lupa bahwa Kristus memanggil kita untuk memikul salib.

Filipi 2:5–8 menunjukkan bagaimana Yesus merendahkan diri dan taat sampai mati di kayu salib. Jika Kristus sendiri menunjukkan jalan kerendahan hati, mengapa kita justru menjadikan kesombongan sebagai ukuran keberhasilan pelayanan?

Salib bukan berarti kita harus mencari penderitaan. Salib mengajarkan kita untuk tetap setia, menjaga integritas, berani menyuarakan kebenaran, dan tidak menjual panggilan Tuhan demi kepentingan pribadi. Jabatan dan pengaruh bukanlah dosa, tetapi semuanya kehilangan makna ketika dipakai untuk meninggikan diri sendiri.

Saudara-saudara, jangan hanya bersemangat ketika pelayanan mendatangkan pujian. Jangan hanya setia ketika ada keuntungan. Jangan hanya berani berbicara tentang kebenaran ketika tidak ada risiko yang harus ditanggung.

Pelayan Tuhan yang berintegritas tetap melakukan yang benar, sekalipun tidak populer, tidak dipuji, dan tidak mendapatkan kedudukan.

Mari kembali kepada salib. Periksa kembali motivasi kita. Apakah kita melayani karena mengasihi Tuhan, atau karena ingin dikenal manusia? Apakah kita mencari kemuliaan Kristus, atau sedang membangun kemuliaan diri sendiri?

Sebab, pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa setia kita menjalankan panggilan Tuhan.

Doa

Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk tetap setia dalam pelayanan. Jauhkan kami dari kesombongan, ambisi pribadi, dan keinginan mengejar kehormatan duniawi. Bentuklah hati kami agar rendah hati, berani membela kebenaran, dan tetap melayani sekalipun tidak mendapat pujian. Biarlah salib-Mu selalu mengingatkan kami bahwa pelayanan adalah panggilan untuk mengasihi dan berkorban, bukan kesempatan untuk meninggikan diri. Amin.

Pesan hari ini: Jangan mengejar takhta sampai melupakan salib. Tetaplah setia, sebab kemuliaan seorang pelayan bukan terletak pada tingginya kedudukan, melainkan pada ketulusan dan kesetiaannya kepada Kristus

Posting Komentar untuk "Kembali ke Crux (Salib): Teguran Luther bagi Jiwa-Jiwa yang Lari dari Panggilan Pelayanan "