Mengejar Tahta, Kehilangan Jiwa: Ketika Ambisi Membunuh Empati I Motivasi Kristen
Mengejar Tahta, Kehilangan Jiwa: Ketika Ambisi Membunuh Empati
Bacaan Alkitab: 1 Samuel 18:6–16
“Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.”1 Samuel 18:9
Tidak semua orang yang mengejar jabatan kehilangan hati. Tetapi ketika jabatan menjadi lebih penting daripada manusia, di situlah ambisi mulai berbahaya.
Saul adalah seorang raja. Ia memiliki kedudukan, kehormatan, dan kuasa. Tetapi ketika Daud mulai dikenal dan dipuji oleh rakyat, hati Saul berubah. Ia tidak lagi melihat Daud sebagai sesama yang dapat bekerja bersama, tetapi sebagai ancaman terhadap tahtanya.
Dari sinilah kecemburuan tumbuh menjadi kebencian.
Saul takut kehilangan tahta, sampai ia kehilangan kasih.
Inilah bahaya ambisi yang tidak dikendalikan. Seseorang dapat begitu sibuk mempertahankan posisi sampai lupa bahwa orang-orang di sekitarnya bukanlah musuh.
Ia mulai melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman.
Ketika orang lain dipuji, ia merasa tersaingi.
Ketika orang lain dipercaya, ia merasa terancam.
Ketika orang lain naik, ia merasa dirinya sedang turun.
Akhirnya, ambisi membunuh empati.
Padahal jabatan tidak pernah diberikan untuk membuat kita lebih tinggi dari orang lain. Jabatan adalah kepercayaan untuk melayani.
Yesus berkata:
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
Markus 10:43
Berarti ukuran kebesaran dalam Kerajaan Allah bukanlah seberapa tinggi kita duduk, tetapi seberapa banyak orang yang dapat kita layani tanpa kehilangan kasih.
Kita perlu berhati-hati ketika mulai mengejar posisi dengan mengorbankan persahabatan, menjatuhkan orang lain, menyebarkan cerita buruk, atau menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan diri.
Sebab apa gunanya mendapatkan jabatan jika dalam prosesnya kita kehilangan hati?
Apa gunanya memiliki tahta jika tidak ada lagi orang yang merasa aman di dekat kita?
Apa gunanya dihormati karena jabatan jika sesungguhnya kita kehilangan penghormatan karena karakter?
Untuk Direnungkan
Mungkin kita tidak sedang mengejar kursi raja. Tetapi ambisi dapat muncul dalam bentuk yang lebih sederhana:
ingin selalu menjadi yang paling dihormati, ingin selalu dipuji, tidak suka melihat orang lain lebih berhasil, atau sulit menerima ketika orang lain mendapatkan kesempatan.
Karena itu, periksalah hati kita.
Ketika orang lain berhasil, bisakah kita ikut bersukacita?
Ketika orang lain dipercaya, bisakah kita tetap mendukung?
Ketika kita memiliki kuasa, bisakah kita tetap rendah hati?
Jangan sampai kita memenangkan posisi tetapi kehilangan manusia.
Jangan sampai kita mendapatkan jabatan tetapi kehilangan sahabat.
Dan yang paling berbahaya: jangan sampai kita mendapatkan tahta, tetapi kehilangan jiwa.
Doa
Tuhan Yesus,
Jagalah hati kami dari ambisi yang berlebihan. Jangan biarkan keinginan untuk dihormati, memiliki jabatan, atau mendapatkan kekuasaan membuat kami kehilangan kasih kepada sesama.
Ajarlah kami bersukacita ketika orang lain berhasil, mendukung ketika orang lain dipercaya, dan tetap rendah hati ketika kami sendiri berada di posisi yang tinggi.
Jika Engkau memberikan kami jabatan, ajarlah kami menggunakannya untuk melayani, bukan untuk meninggikan diri.
Lebih baik kami kehilangan sebuah posisi daripada kehilangan hati yang penuh kasih. Lebih baik kami tidak memiliki tahta daripada kehilangan jiwa.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.

Posting Komentar untuk "Mengejar Tahta, Kehilangan Jiwa: Ketika Ambisi Membunuh Empati I Motivasi Kristen "
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.